MTI Kutim Kaltim - Maraknya pemberitaan tentang Keraton Sejagat di Jawa Tengah dan Sunda Empires di Jawa Barat telah membuat gerah para pelestari adat budaya

Situs Sejarah Kerajaan Kutai Perlu Perhatian Dan Penanganan Pemerintah

MTI Kutim Kaltim - Maraknya pemberitaan tentang Keraton Sejagat di Jawa Tengah dan Sunda Empires di Jawa Barat telah membuat gerah para pelestari adat budaya Kerajaan Nusantara, salah satunya adalah Yomi ( 56 ), warga desa Nehes Liah Bing, Kecamatan Wahau, Kabupaten Kutai Timur.

Yomi yang dikenali oleh masyarakat sekitar sebagai Pemangku Adat Besar, Kerajaan Kutai Mulawarman, mengaku kesal dengan kemunculan kerajaan yang dinilainya aneh tersebut.

“Aneh dan lucu adanya keraton sejagat itu. Indonesia sudah merdeka. Yang ada itu adalah generasi pewaris dan penerus kerajaan dan kesultanan, yang mana di akui oleh Negara Indonesia sebagai pelestari adat istiadat dan budaya kerajaan ataupun kesultanan yang dahulu ada di Nusantara sebelum Indonesia merdeka". Jelas Yomi kepada MTI disela kegiatan rutin kerja bakti para anggota Lembaga Besar Adat Kerajaan Kutai Mulawarman di Situs Budaya Goa Gunung Kongbeng, yang berada di desa Kongbeng Indah, Minggu ( 26/01).


"Situs Budaya Goa Gunung Kongbeng"

"Contohnya adalah kesultanan di Jogja dan Kerajaan Kutai Mulawarman di Kalimantan Timur ini". Lanjut Yomi menerangkan.

"Kami, masyarakat Kutai merasa wajib melestarikan budaya adat kami sesuai arahan titah Yang Mulia Agung Sripaduka Baginda, Prof Honoris Causa. Maharaja Srinala Pradita Alpiansyahrecza Fachlevie Wangsawarman, Ph.D, maharaja kami Kerajaan Kutai Mulawarman di Tenggarong. Dan termasuk kegiatan kami di situs Budaya Gua Gunung Kongbeng ini adalah seperti titah maharaja untuk melestarikan situs peninggalan nenek moyang kami Raja Mulawarman". Pungkasnya.

Selaras dengan Yomi adalah Alimuddin ( 39 ), warga Desa Long Buluh, Kecamatan Telen, yang mengaku datang dari jarak yang cukup jauh ke situs Budaya Gua Gunung Kongbeng di Kecamatan Kongbeng, semata demi wujud bakti sebagai masyarakat Kutai dan juga tugas sebagai anggota dari Lembaga Adat Kerajaan Kutai Mulawarman (LAKKM), dari pemangku adat Kerajaan Pantun Bendang di Sanggata yang ingin berkontribusi kepada Negara Republik Indonesia melalui pelestarian adat istiadat Nusantara, khususnya adat suku Kutai.

Menurut Alimuddin situs Budaya Gua Gunung Kongbeng sudah sangat memprihatinkan, dengan adanya coretan tulisan ( vandalisme) di dinding gua. Pun pepohonan yang tumbuh liar tidak terurus, membuat pemandangan kurang nyaman. Padahal jika dirawat dan dikelola dengan baik, situs sejarah Kerajaan Kutai Mulawarman ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Kutai Timur. Selain tempatnya yang sejuk dan rindang, Gua Gunung Kongbeng juga dikenal sangat nyaman untuk bermeditasi. Sehingga sering didatangi oleh tokoh lintas agama untuk melakukan meditasi dan ritual menurut keyakinan mereka.

"Harapan kami sebagai masyarakat Kutai dan Lembaga Adat Kutai, semoga kedepannya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga Dinas Pariwisata di Kabupaten Kutai Timur, memberi perhatian lebih terhadap situs gua gunung Kongbeng, sebagai situs budaya Indonesia. Karena akses menuju situs ini jalannya belum sepenuhnya layak. Kami dari Lembaga Adat Kerajaan Kutai Mulawarman setiap 2 (dua) minggu sekali mengadakan kegiatan bersih situs. Sebagai bentuk kepedulian kami untuk melestarikan budaya warisan bangsa". Kata Alimuddin.

Gua Gunung Kongbeng atau Gua Angin adalah gua yang didalamnya terdapat arca dari jaman Kerajaan Kutai. Namun sayangnya ada arca (patung) yang sebagian tubuhnya hilang. Berada dijarak lebih kurang 17 km dari jalan poros Trans Kalimantan, infrastruktur menuju situs memang perlu pembenahan. (Ried)