Hari ini hampir di seluruh belahan bumi, dihantui rasa ketakutan yang tinggi, akibat dari penyebaran Covid 19. Covid 19 ini, telah membuat dan mengalihkan

Penyebaran Covid 19 Ditinjau Dari Kajian Ilmu Fisika

Hari ini hampir di seluruh belahan bumi, dihantui rasa ketakutan yang tinggi, akibat dari penyebaran Covid 19. Covid 19 ini, telah membuat dan mengalihkan semua perhatian kalangan masyarakat, karena semakin banyak kasus positif dan meninggal, yang setiap harinya jumlahnya terus mengalami peningkatan yang pesat. Kehadiran virus ini juga mengubah tatanan dalam kehidupan bermasyarakat, akibat dari berbagai dampak yang timbul dalam berbagai aspek, terutama dalam aspek ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya. Namun berbagai upaya terus dilakukan baik dalam penanganan pasien yang terpapar maupun upaya pencegahan dari Penyebaran Covid 19 tersebut.

Covid 19 masuk kategori Enveloped Virus, karena memiliki selubung berupa lapisan minyak. Lapisan ini bisa semakin kuat pada suhu dingin, dan melemah di suhu panas. Hal ini memancing diskusi yang menarik dari “k\Kajian Ilmu Fisika” terutama dalam hal perubahan iklim dan cuaca terkait resiko merebaknya penyebaran penyakit ini. Karena mengingat Indonesia memiliki cuaca dan iklim yang sangat berbeda dengan lokasi awal penyakit ini ditemukan. Beberapa studi memperlihatkan, bahwa negara dengan posisi lintang tinggi mempunyai kerentanan Penyebaran Covid 19 yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan negara-negara tropis (Araujo et. al. 2020; Chen et. al. 2020; Sajadi et. al. 2020; Sun et. al. 2020; Wang et. al. 2020). Hasil studi yang lain, menunjukkan bahwa kondisi ideal untuk Covid 19 ialah temperatur sekitar 8-10 °C dan kelembapan 60%-90%, sebagaimana dapat dilihat dalam penelitian Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020).

Kudo et. al.(2019) menjelaskan, bahwa di daerah beriklim temperate, Outbreak Virus Influenza terkait erat dengan penurunan kelembapan. Lebih lanjut Wang et al (2020) menjelaskan pula, bahwa serupa dengan virus influenza, Covid 19 ini cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering. Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan Host Immunity seseorang, yang dapat mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus sebagaimana yang dituliskan di dalam studi oleh Wang et. al. (2020). Sun et. al. (2020) menjelaskan bahwa suhu rendah memiliki pengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh manusia.

Analisis suhu udara rata-rata wilayah Indonesia di dekat permukaan bumi pada Januari hingga Maret 2020, umumnya menunjukkan nilai antara 27°C - 30°C. Selain faktor musim, variasi spasial suhu udara rata-rata antara satu wilayah dengan wilayah lain juga dipengaruhi oleh faktor topografi. Tempat dengan elevasi dari permukaan laut yang lebih tinggi umumnya akan memiliki suhu udara yang lebih rendah. Pada April hingga Juni 2020, suhu udara rata-rata di wilayah Indonesia diprediksi berada pada kisaran 26°C - 29°C. Adapun pada Juli hingga September 2020 yang akan datang, suhu udara ini diprediksi berada pada kisaran 26°C hingga 28°C. Suhu udara rata-rata yang lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya ini merupakan hal yang wajar, mengingat di wilayah Indonesia bagian selatan sudah mulai memasuki musim kemarau.

Hal ini terbukti juga dalam kasus Covid 19 di Indonesia. Dengan kondisi cuaca dan iklim di Indonesia yang umumnya ditandai dengan suhu dan kelembaban yang tinggi, semestinya kasus Covid 19 tidak dapat berkembang. Itu terbukti pada Januari hingga Februari 2020 yang lalu, merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk Outbreak Covid 19 terjadi di Indonesia (gelombang 1). Namun, selanjutnya pada gelombang ke-2 pada Maret hingga yang terjadi saat ini, kasus Covid 19 telah merebak di Indonesia dengan jumlah kumulatif kasus mendekati angka 2000 pada 3 April 2020.

Hal ini menunjukan faktor mobilitas orang lebih berpengaruh dalam penyebaran dan peningkatan Covid 19 di Indonesia. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor suhu dan kelembapan udara dapat menjadi factor pendukung dalam mengurangi risiko penyebaran wabah Covid 19. Kesimpulan ini juga serupa dengan hasil kajian Tim BMKG dan UGM yang juga sangat merekomendasikan kepada masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh, dengan memanfaatkan kondisi cuaca untuk beraktivitas atau berolahraga pada jam yang tepat, terutama di bulan April hingga puncak musim kemarau di bulan Agustus nanti, yang diprediksi akan mencapai suhu rata-rata berkisar antara 28° C - 32° C dan kelembapan udara berkisar antara 60% s/d 80%, serta tentunya dengan lebih ketat menerapkan “Physical Distancing” dan pembatasan mobilitas orang ataupun dengan ‘Tinggal di Rumah’, disertai intervensi kesehatan masyarakat, sebagai upaya untuk memitigasi atau mengurangi Penyebaran Wabah Covid 19 secara lebih efektif. Karena cuaca yang sebenarnya menguntungkan ini, tidak akan berarti optimal tanpa penerapan seluruh upaya tersebut dengan lebih maksimal dan efektif.

Kesimpulan diatas didukung oleh hasil Peneliti dan ahli dari Akademi Nasional Amerika Serikat David A Relman menyebutkan bahwa faktor iklim dan cuaca bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi penyebaran transmisi Virus Covid 19. Dalam hasil riset yang dikutip dari laman resmi Akademi Sains, Teknik, dan Kedokteran Nasional AS di Jakarta, Kamis (09/04/2020), masih banyak faktor lain yang memengaruhi. "Meskipun sejumlah penelitian menunjukkan keterkaitan antara temperatur yang tinggi dan level kelembapan dan menurunnya kemampuan bertahan hidup virus SARS-CoV-2 di laboratorium, masih banyak faktor lain di samping suhu lingkungan, kelembapan, dan kemampuan bertahan hidup virus di luar inang, yang memengaruhi dan menentukan besaran penularan antar manusia di kondisi yang sebenarnya," kata David A Relman. Dalam penelitiannya, dia mencantumkan beberapa hasil penelitian dari berbagai negara yang menunjukkan adanya hubungan antara suhu dan kelembapan yang tinggi dan kasus yang cenderung turun. David mengambil contoh penelitian dari Hong Kong China yang menyebutkan virus SARS-CoV-2 bisa bertahan di suatu permukaan hingga 14 hari pada suhu 4° C, tujuh hari pada suhu 22° C, satu hari pada suhu 37° C, 30 menit pada 56° C, dan lima menit pada suhu 70° C.

Kajian ini tentu bukan menjadi acuan utama dalam penekanan penyebaran virus corona melainkan masih membutuhkan penelitian dan pengkajian yang lebih dalam terkait dengan pengaruh cuaca dan iklim dalam penyebaran virus corona hingga benar-benar dapat dibuktikan dengan valid dan akurat cuaca dan iklim berperan dalam penyebaran virus ini. Kendati demikian sebagai upaya dalam penekanan penyebaran virus ini hendaknya terus mematuhi semua himbauan pemerintah dan terus berdoa dan berharap kepada Tuhan yang Maha Kuasa virus ini segera lenyap dari dari muka bumi seiring dengan datangnya lebaran dan masuknya musim kemarau.

Penulis: Ahmad Nedis

Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas (UNAND)