Pengusaha Cuci Mobil Tak Mau Tanggung Jawab Atas Peristiwa Naas Yang Dialami Karyawannya Pengusaha Cuci Mobil Tak Mau Tanggung Jawab Atas Peristiwa Naas Yang Dialami Karyawannya Media Tipikor Indonesia

Redaksi / 25 April 2021 / Dilihat 6171 kali

Pengusaha Cuci Mobil Tak Mau Tanggung Jawab Atas Peristiwa Naas Yang Dialami Karyawannya

MTI Banyuwangi JATIM - Peristiwa na'as yang menimpa Riski Nata Bintang Maulana, Warga Jalan. Riau Gg. Berlian, RT 02 – RW 03, Kelurahan Lateng Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Korban Sengatan Arus Listrik Tegangan Tinggi milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang terjadi pada hari Kamis (22/04/2021/) sekitar pukul 14:30 WIB, di Lingkungan Kerjanya, Jalan. Surati, Kelurahan Kampung Melayu, Banyuwangi, menyisakan cerita, Pasalnya pihak Pengusaha Cucian Mobil (Car Wash), tempat Korban bekerja enggan bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Awal mula kejadian, di mana Korban bersama satu temannya bernama Adit, di sela-sela Jam Kerja Naik ke Lantai 3, di tempat mereka bekerja, bermaksud istirahat sambil bersua Photo di sana. Saking asyiknya mengambil Photo, sehingga Korban tidak menyadari posisinya terlalu dekat dengan Kabel Listrik dan secara tiba-tiba terjadilah Peristiwa Naas tersebut.

‘Riski ada di sebelah Barat Mas, mungkin karena jaraknya terlalu dekat sama kabel, akhirnya terjadilah peristiwa itu,” Jelas Adit.

Setelah Korban dievakuasi dari Lantai 3 oleh Petugas Medis dibantu Petugas PLN dan juga warga sekitar TKP, Korban dilarikan ke IGD RSUD Blambangan Banyuwangi menggunakan Ambulance dan harus menjalani Perawatan Intensif, karena luka bakar serius yang diderita Korban.

Pada ke esokan harinya, hari Jum'at, (23/04/2021), pihak Keluarga Korban mengajukan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dimiliki Korban ke pihak RSUD Blambangan terkait masalah Pembiayaan Korban selama di Rawat Inap disana, akan tetapi dari pihak Admisi RSUD Blambangan yang bernama Adi menyampaikan, bahwasanya KIS yang dimiliki Korban tidak bisa dicover, karena kecelakaan yang dialami korban masih dalam Lingkup Pekerjaan.

“Begini Pak, karena dalam kasus Pasien yang kesetrum itu tidak masuk dalam Jaminan BPJS Kesehatan, jadi untuk BPJS Kesehatan yang dimiliki si Pasien tidak bisa digunakan, harusnya yang digunakan dalam kasus ini BPJS Ketenagakerjaan,” Jelas Adi.

“Apabila Korban belum memiliki atau belum diikut sertakan BPJS Ketenagakerjaan, maka itu masih Tanggung Jawab Pemberi Kerja,” Imbuhnya.

Berbekal pernyataan dari Rumah Sakit itulah pihak keluarga Korban didampingi oleh Awak Media mendatangi Abdullah, di kediamannya, di Jalan. Bangka No 27, Selaku Pengelola Usaha (Pengusaha) Cucian Mobil tempat Korban bekerja dengan maksud menanyakan perihal tersebut, karena sebelumnya pihak Pengelola hanya memberikan uang kompensasi sebesar Rp. 500.000 untuk Pengobatan Korban, akan tetapi pihak keluarga Korban mengembalikan uang tersebut.

“Riski itu kerjanya di bawah bukan di atas, ngapain juga naik ke atas, padahal saya sudah melarangnya, Lagian Listrik PLN itu bukan punya saya kok,” Ucap Abdullah.

Disinggung soal tuntutan pihak Keluarga Korban terkait masalah Pembiayaan Korban selama dirawat inap Abdullah mengatakan, “Kan sudah saya bantu 500 Ribu, kalau masalah BPJS yang tidak bisa dicover, semua Rumah Sakit pasti mencari celah untuk tidak menerima,” Katanya.

“Saya juga heran kenapa orang disuruh ikut BPJS, setelah itu kenapa kok orang sudah ikut BPJS masuk kok tidak boleh/ditolak dengan bermacam - macam alasan, terus yang bisa dicover itu apa ? Dan soal Izin Usaha, saya tidak bisa menjawab,” Pungkas Abdullah.

Sampai berita ini diturunkan dari pihak PLN masih belum bisa dikonfirmasi karena masih dalam keadaan hari libur. Bersambung (Team MTI)