MTI Kutim Kaltim - Warga transmigrasi dari kabupaten Banyuwangi provinsi Jawa Timur yang berada di Kabupaten Kutai Timur provinsi Kalimantan Timur, patut

Luar Biasa, 5 T Untuk Eksistensi Jaranan Butho Banyuwangi Di Sangatta Kutai Timur

MTI Kutim Kaltim - Warga transmigrasi dari kabupaten Banyuwangi provinsi Jawa Timur yang berada di Kabupaten Kutai Timur provinsi Kalimantan Timur, patut bangga dengan capaian prestasi grup kesenian jaranan butho 'Turonggo Yakso''. Salah satu komunitas pelestari seni dan budaya Banyuwangi yang berada di desa Sangkima kecamatan Sangatta Selatan kabupaten Kutai Timur. Grup Jaranan yang pernah di undang Pemkab Kutim di event kebudayaan nusantara bersama dengan pelestari seni budaya daerah lainnya yang ada di Kutai Timur, juga kerap  menerima order pertunjukan di pesta hajatan warga sekitar Sanggata bahkan diluar Sangatta.

Hal tersebut dituturkan olehTrimanto salah satu dari 5 bersaudara yang menjadi penggagas sekaligus pelestari seni Jaranan butho Banyuwangi sewaktu di sambangi MTI di rumahnya, dimana kedatangan MTI telah ditunggu olehTriono, Trimanto, Tri Utomo, Tri Hadi Waloyo dan Tanto. Mereka adalah 5 bersaudara yang akrab dusebut 5 T. Jum'at (13/03/2020).

Keluarga besar mereka menjadi trans di Kalimantan semenjak era orde baru semasa presiden Soeharto.

“Turonggo Yakso kami bentuk pada tahun 1993 lalu, mas. Saya dan saudara saudara saya menjadi penabuh sekaligus pemainnya”, ucap Trimanto.

“Awalnya alat musik dan kostum Jaranan gak seperti yang sampean lihat ini. Dulu seadanya. Bahkan ada yang kami bikin sendiri dari plywood”, imbuhnya sembari tertawa mengenang masa itu.

Selanjutnya Trimanto berkisah tentang usahanya beserta 4  saudaranya untuk membesarkan grup kesenian Jaranan Butho Banyuwangi di Sangatta yang merupakan ibu kota kabupaten Kutai Timur.

"Suka dukanya Turonggo Yakso ini jika dibukukan bisa ratusan lembar tebalnya", seloroh Tri Hadi Waloyo sambil tertawa.

“Jane mung gawe tombo kangen kok mas (Hanya untuk pengobat rindu kok mas )”, Timpal Triono yang disebut sebagai kakak pertama, kemudian dia bercerita tentang berbaurnya para pelestari seni yang sama berasal dari provinsi Jawa Timur disekitar wilayah Sangatta untuk bergabung dalam grup jaranan yang mereka bentuk itu.

“Nah,waktu itulah kami semakin sering latihan bersama sehingga kami merasa siap untuk tampil”, kata Tanto.

“Jika ingin melihat performa Turonggo Yakso, silahkan buka youtube”, pinta Tanto. Ketik Turonggo Yakso Sangkima Kutim. https://m.youtube.com/watch?v=zeltiOr3n30

Beralih ke Trimanto bahwa Jaranan Buto itu merupakan kesenian dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Suatu tarian yang properti kuda buatannya tidak seperti halnya yang biasa kita dapati pada kesenian Kuda Lumping, Jaran Kepang atau Tari Jathilan. Namun berwajah raksasa atau Buto, bahkan para pemainnya juga menggunakan tata rias muka layaknya seorang raksasa yang lengkap dengan muka merah bermata besar, bertaring tajam, berambut panjang dan gimbal.

Pementasan tari Jaranan Butho Banyuwangi diiringi alunan musik seperti kendang, dua bonang, dua gong besar, kempul, terompet, kecer (seperti penutup cangkir) yang terbuat dari bahan tembaga dan seperangkat gamelan. Para penonton pasti menunggu atraksi kesurupan para penarinya setiap kali pementasan. Seakan tidak afdol jika pertunjukan jaranan tidak ada atraksi kesurupan. Atraksi kesurupan para Penari Jaranan Butho merupakan puncak dari pertunjukan setelah tari -tarian. Penari yang kesurupan tersebut tidak sadar dan akan mengejar orang yang menggodanya dengan siulan. Selain itu, penari yang dalam keadaan kesurupan mampu memakan kaca, api, ayam hidup dengan mengigit kepalanya hingga ayam tersebut mati dan masih banyak atraksi lagi yang ditampilkan. Namun ada seorang Pawang yang bertanggung jawab untuk menyadarkan kembali para penari atau penonton yang ikut kesurupan disetiap pertunjukan Jaranan Butho digelar.

Konon sejarah kesenian tari Jaranan Buto, bermula dari dusun Cemetuk desa Cluring Kabupaten Banyuwangi.

Akulturasi Budaya yang unik berupa tari Jaranan Butho adalah perpaduan antara kebudayaan Osing (Suku asli Banyuwangi) dengan kebudayaan Jawa Mataraman yang sebagian besar bermukim di wilayah desa Gambiran yang berbatasan dengan dusun Cemetuk.

Dikabarkan bahwa istilah Jaranan Butho melambangkan tokoh legendaris bernama Minakjinggo. Terdapat beberapa anggapan yang mengatakan bahwa Minakjinggo adalah seorang yang berkepala Raksasa yang dalam Bahasa Jawa disebut Butho. Disimbolkan juga bahwa replika Kuda dalam kesenian jaranan sebagai  filosofi semangat perjuangan. Digambarkan penari dan kudanya sebagai sikap ksatria dan unsur kerja keras tanpa kenal lelah didalam setiap kondisi.

Triono menambahkan jika grup seni Jaranan Butho Banyuwangi Turonggo Yakso, selama ini belum mendapatkan pembinaan dari pemerintah kabupaten Kutai Timur.

“Kami tidak tahu bagaimana caranya mendapat binaan sebagai pelestari budaya nusantara di sini”, ungkap Trio Hadi Waloyo mengamini keterangan kakaknya itu.

Pria yang semenjak MTI bertandang selalu diam itu, melanjutkan bahwa grup kesenian Jaranan Butho Banyuwangi Turonggo Yakso ingin keberadaan mereka mendapatkan perhatian dari pemerintah. Agar mereka bisa terus eksis melestarikan budaya bangsa hingga pada generasi berikutnya. Karena seni dan budaya tidak harus dari warga suku aslinya sebagai pelestari. Namun merupakan kewajiban bagi penerus cita cita bangsa Indonesia. (Ried)