Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Arman Asmara Syarifudin

Lebih Dekat Mengenal Kapolresta Banyuwangi: Polisi Harus Berwawasan IT

Oleh: Achmad Syauqi, SH (Advokat dan Lawyer MTI)

Publik Jawa Timur sempat dihebohkan oleh kasus penipuan miliaran rupiah, prostitusi online bertarif 80 juta sekali kencan, dan aksi penyebaran hoaks internasional. Namun masyarakat awam, seperti saya, lebih tertarik pada sosok atau cerita pelaku daripada aksi heroik aparat hukum yang menangkapnya. Karena kanal informasi yang dibuat infotainment dan berita koran, seringnya mengupas kehidupan pelaku yang barangkali lebih bernilai jual. Meski sebenarnya tidak sedikit kisah bisa diulas selama proses penegakan hukumnya.

"Kapolresta Arman Asmara Bersama Syauqi dan MTI"

Membongkar kasus besar atau berdampak viral bukan perkara gampang. Tekanan dari para oknum berkepentingan di belakang kejahatan tersebut, hingga tuduhan publik ke institusi Polri jika salah dalam penanganan. Itu semua tidak menyurutkan tekad seorang AKBP Arman Asmara, Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur kala itu untuk melakukan penyelidikan dan penangkapan.

“Butuh beberapa tahun kita menyelidiki kebenaran kasus itu, Mas. Hingga mantap benar, baru kita lakukan penangkapan. Itu pun tidak mudah karena ada oknum yang melindungi pada saat di TKP,” Kenang Pria yang kini mengepalai jajaran Kepolisian Resort Kota Banyuwangi.

Sebagai Kepala Polresta pertama di Kabupaten Banyuwangi, Kombes Pol Arman menerapkan model polisi berwawasan IT (Ilmu dan Teknologi) dalam kepemimpinannya. Dimaklumi pada posisi sebelumnya, sebagai Wadir Reskrimsus yang membongkar di antaranya kasus-kasus ITE, pengetahuan dalam teknologi dan perkembangannya merupakan bekal utama. “Saya senang di Banyuwangi. Banyak (mendapat) ilmu,” Ungkapnya.

Lebih lanjut Polisi yang senang diskusi ini menjelaskan, hanya ilmu dan teknologi yang mampu menjawab tantangan kepolisian di era industri 4.0. Polisi (dengan IT) harus mampu menginspirasi masyarakat di semua lini. Karena fungsi polisi bukan hanya penegakan hukum dan menjaga keamanan. Termasuk juga mengayomi dan melayani.

“Fungsi melayani sangat luas, Mas. Karenanya saat ini kami sedang mengembangkan sistem teknologi yang menghubungkan antara Polresta dengan Pemerintah, Perguruan Tinggi dan beberapa institusi lain di Banyuwangi,” Paparnya.

Sistem nantinya diharapkan memudahkan semua elemen masyarakat dalam bersinergi dengan kepolisian. Mulai pengaduan, layanan surat-surat keterangan, hingga kebutuhan internal lainnya kepolisian.

Menjabat hampir setahun di Banyuwangi, Kombes Pol Arman memiliki tugas utama mengembangkan internal organisasi dan sumber daya manusia Polresta Banyuwangi. Tugas yang harus segera diwujudkan sebagai tuntutan naik kelas dari Polres Tipe B menjadi Polres Tipe A (Polresta). Berdasar hasil kajian yang dilakukan Polresta Banyuwangi, standarisasi akan diselesaikan selama kurun 5 hingga 10 tahun ke depan melalui 3 fase tahapan.

Diantaranya penambahan jumlah personil dari semula 1.125 menjadi minimal 1.893 personil. Bangunan Mako Polresta harus ada di lahan minimal 3 hektar, yang saat ini telah disiapkan di depan Kantor Satpas. Posko Polisi di Bandara juga nantinya harus berbentuk Polsek. Pembentukan Satpam Obvit, standarisasi bentuk pengamanan perbatasan antara Provinsi (Banyuwangi perbatasan Jawa Timur dan Bali). Pembentukan Batalion Brimob, serta penambahan jumlah Polsek Urban dari 26 menjadi 53. Termasuk penambahan unit-unit baru, seperti saat ini telah terbentuk Unit Cyber Crime.

“Senang sekali kedatangan Mas Syauqi bersama kawan-kawan MTI (Media Tipikor Indonesia). Kapan-kapan kita makan siang bareng sambil diskusi lagi. Kalau Banyuwangi ingin bagus, maka harus sering komunikasi, kooordinasi dan kolaborasi,” Pungkas Polisi dengan Melati Tiga di pundaknya.

‘Tetaplah ramah, Pak Kapolresta! Semoga Tuhan senantiasa memudahkan tugas dan karir Bapak”

Syauqi, dalam satu jam bersama Kapolresta Banyuwangi.