Sepulang dari langar, Hatinya merasa penuh kemenangan1. Setelah makanDia menuju MushollaDia lihat beberapa anak kecilSedang belajar mengaji

Jalan Para Sarjaana 3

Sepulang dari langar, Hatinya merasa penuh kemenangan

1. Setelah makan

Dia menuju Musholla

Dia lihat beberapa anak kecil

Sedang belajar mengaji disana

Ada yang sudah bagus tajwidnya

Ada juga yang masih mengeja

Namun seperti biasanya

Anak kecil didalam Langgar

Ada yang khusuk mengaji

Ada pula yang gesah sak rewangan

Ustadz tidak boleh keras memarahi mereka

Ustadz tidak boleh menghukum

Diluar kemampuanya

PARA SARJANA PERNAH BERPESAN

Mereka adalah Tunas

Yang masih lemah batangnya

Jangan sampai gugur daunya

Apalagi sampai patah tangkainya

Mereka adalah Tunas

Yang masih butuh disirami

Dijaga dan dilindungi dari panasnya matahari

MENGAJI DI LANGGAR

Anak anak itu belajar berjalan

MENGAJI DI LANGGAR

Anak anak itu belajar jadi orang

 

MENGAJI DI LANGGAR

Anak anak itu belajar meniti buih

MENGAJI DI LANGGAR

Anak anak itu belajar hidup tanpa pamrih

PARA SARJANA JUGA MENYAMPAIKAN

Mengaji di Rumah, di Langgar atau di Masjid

Anak anak itu belajar menyelam

Di air kehidupan paling dalam

TERHADAP ANAK ANAK ITU

Perlakukan mereka seperti engkau

Sabar menunggu angin semilir

Perlakukan mereka seperti engkau

Menyayangi rembulan

Perlakukan mereka seperti

Di saat hatimu sedang diam

Anak anak itu seperti air yang bening

Perlakuanmu jangan sampai

Mencemari airnya

ITULAH PEKERTI PARA SARJANA

Yang Amat Sabar

Mendampingi Putra Putra Pelangi

SANTRI KEHIDUPAN

ITULAH PEKERTI PARA SARJANA

Dalam Merangkai

Maupun Merajud

PANJI PANJI BUSANANYA

Biarkan anak anak itu belajar berdiri

Biarkan anak anak itu belajar berlari

Pada saatnya nanti

 

JIWAMU AKAN MENGENALI

Betapa dahsyatnya jiwa mandiri

Betapa dahsyatnya jiwa

Yang telah ditempa dari api suci

”Khalil Gibran” juga berkata

Anak anak ltu bukan anakmu

Mereka putra putri hasil kerinduan Sang Hidup

Lewat engkau mereka lahir

Tapi tidak dari engkau

Mereka ada padamu

Tapi bukan milikmu

Patut kau buatkan rumah untuk raganya

Tapi bukan untuk jiwanya.

Sebab jiwanya telah menghuni rumah masa depan.

Yang tak dapat kau kunjungi walau dalam impian

2. Lelaki itu masih dalam Langgar

Melihat geliat tingkah anak anak

Yang ada di Langgar itu.

BIBIRNYA TERSENYUM

Setelah dari Langgar

Dia tidak langsung pulang

Hatinya kini sedang senang

Dia mencoba menikmati malam

Bercengkerama dengan alam

Daun daun menari bergoyang

Bulan tersenyum dibalik awan.

Lelaki Itu Girang

SEPULANG DARI LANGGAR

Hatinya Merasa Penuh Kemenangan

Semoga, Amin

Perum Kalipuro Asri 23.05Wib.01Juli2019

Begawan Cipto Roso: