Independensi HMI Dalam Pilkada Banyuwangi

Independensi HMI Dalam Pilkada Banyuwangi

Oleh: Mahfud Wahib

Menyambut Pilkada Banyuwangi, berbagai pertanyaan muncul kehadapan para aktivis mahasiswa tak terkecuali Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang kebetulan berdomisili di Banyuwangi. Bagi HMI dan juga beberapa kalangan Aktivis lainnya, momentum Pilkada umumnya dipandang sebagai sebuah kesempatan unjuk gigi dari masing-masing organisasi yang dinaunginya guna memberi kontribusi baik dalam bentuk pemikiran, kritikan dan tebaran gagasan. Dilihat dari konteks ini beberapa pertanyaan itu coba dikerucutkan menjadi sebuah pertanyaan ‘nakal’ terhadap kalangan aktivis, khususnya HMI dalam menyikapi Pilkada Banyuwangi ini, akan mendukung siapakah HMI dalam Pilkada Bantuwangi nanti ?

Tentu saja tulisan ini tidak coba mengklaim HMI secara keseluruhan, namun jika ditilik lebih mendalam pada konteks yang lebih substansial dan praktikal posisi HMI dan para pegiat yang hari ini menjadi pengurus secara structural, tentulah mempunyai sikap dan pandangan sendiri menyikapi Pilkada Banyuwangi yang diramaikan oleh dua pasang kandidat tersebut. Merunut pada konstitusi HMI dengan jelas dan tegas, bagaimana organisasi terbesar dan tertua ini menjadi organisasi mahasiswa yang bersifat Independen (tidak mengekor). HMI yang lahir pada tahun 1947 terbukti hingga kini menjadi satu-satunya organisasi Mahasiswa Islam yang menjadikan independensi sebagai sebuah sikap dan prinsip yang tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun. Independensi HMI dalam konteks ini lebih dititik beratkan pada bagaimana HMI 'merdeka' secara organisasi atau yang umum dikenal sebagai ‘Independensi Organisatoris’.

Seperti yang telah tertera dalam BAB III Pasal 6 Anggaran Dasar (AD): “HMI bersifat independen”. Independen merupakan satu sifat yang tidak berpihak pada golongan serta pihak manapun. Kecuali hanya kepada kebenaran. Sifat independen juga merupakan bukti dari penilaian yang objektif serta kemerdekaan berpikir dan bertindak dalam suatu ikhtiar.

Sifat independensi HMI terbagi menjadi dua, yaitu Indepensi Etis dan Independensi Organisatoris. Independensi Etis adalah ketidak berpihakan suatu individu kepada kelompok tertentu. Kader HMI haruslah berpihak kepada sesuatu, yakni kebenaran yang telah diuji dan bernilai. Maka kader HMI tidak boleh ikut serta dan terjun kedalam partai politik.

Dengan demikian melaksanakan Independensi Etis bagi setiap kader HMI berarti pengaktualisasian dinamika berpikir dan bersikap dan berprilaku baik “hablumminallah” maupun dalam “hablumminannas” hanya tunduk dan patuh dengan kebenaran.

Independensi Organisatoris dalam tafsir independensi HMI diartikan bahwa, “Dalam keutuhan kehidupan nasional HMI secara organisatoris senantiasa melakukan partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional agar perjuangan bangsa dan segala usaha pembangunan demi mencapai cita-cita semakin hari semakin terwujud”.

Dalam konteks Pilkada 2020, jaga baik-baik syahwat politik. HMI sebagai organisasi harus menunjukkan muru’ahnya. Sekarang momen tepat untuk menunjukkan sikap dan integritas HMI dalam mengawal pesta demokrasi demi terpilihnya sosok pemimpin yang mampu mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT sesuai dengan mission HMI.