Pentas Seni Paju Gandrung Banyuwangi

DKB Dan Pelaku Seni Banyuwangi Berharap Seni Paju Gandrung Bangkit Kembali

MTI Banyuwangi JATIM - Meeting Zoom, Meeting adalah sebuah Pertemuan, sementara Zoom merupakan sebuah Aplikasi yang dapat melakukan konferensi jarak jauh dengan menggabungkan konferensi Video, Pertemuan Online, Obrolan hingga Kolaborasi Seluler. Aplikasi tersebut dapat digunakan dalam berbagai perangkatSeluler, Desktop, hingga Telepon dan Sisem Ruang.

"MTI Bersama DKB Dan Pelaku Seni & Budaya Banyuwangi"

Pada umumnya, para Pengguna menggunakan Aplikasi ini untuk melakukan Meeting hingga Konferensi Video da Audio.

Ternyata sarana tersebut kerap digunakan oleh Warung Kemarang pada saat ada acara pertemuan atau pembahasan. Warung Kemarang yang terletak di Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang memiliki sarana tersebut, memanfaatkanya untuk acara Pertemuan dan  Pembahasan Seni, Budaya dan Sejarah Daerah Banyuwangi.

Warung Kemarang menggelar acara Metting Zoom secara rutin setiap hari Jum'at terakhir setiap bulan. Dan pada hari Jum’at, (26/02/2021) kemarin, yang dimulai pukul 19.00 WIB, merupakan acara kegiatan yang ke tiga kalinya.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh beberapa Tokoh Seni, Tokoh Budaya, Tokoh Sejarah dan beberapa Tokoh Banyuwangi lainnya.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi, Hasan Basri, yang bertindak sebagai Moderator dan Ayong Laros, Ketua Organisasi Gesah Boso Osing Tulen (GBOT) Banyuwangi hadir dalam acara tersebut. Selaku Nara sumber, Ayong Laros, mengatakan, “Malam ini, Zoom Meeting membahas seni Paju Gandrung, awalnya Seni Paju Gandrung adalah kesenian asli daerah Banyuwangi yang sangat indah dan nyaman untuk ditonton,” Katanya mengawali bahasannya.

“Di Tahun 70an, Seni Paju Gandrung sangat digemari oleh orang dewasa. Pada saat itu Pementasan Seni Gandrung sangat ramai ditonton masyarakat, dari kalangan anak-anak, wanita, bahkan orang tua, karena pada saat itu, setiap Pementasan Seni Paju Gandrung murni tampilan dari sebuah kesenian, karena di dalam kesenian Paju Gandrung, tidak ada yang namanya minuman keras,” Paparnya.

“Namun seiring berjalannya waktu dan berkembangnya Budaya Asing di atas Tahun 75an, Seni Paju Gandrung mulai dimasuki minuman keras, dan di Tahun 80an Seni Paju Gandrung sudah mulai dikenal indentik dengan minuman keras, hingga saat ini imej yang berkembang di masyarakat, di mana setiap ada Pentas Seni Paju Gandrung, pasti di situ juga ramai minuman keras, hingga banyak kejadian di setiap Pentasan Seni Paju Gandrung akan berakhir dengan keributan,” Ungkapnya.

“Maka dengan adanya acara Metting Zoom yang diselenggarakan setiap bulan di Warung Kemarang ini, disinilah kesempatan para Tokoh Seni dan Budaya untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat luas tentang Sejarah Kesenian Paju Gandrung itu sendiri, karena acara Meeting Zoom ini diselenggarakan secara Live, bisa dilihat dari rumah melalui Jaringan kanal YouTube yang sudah ada, bahkan bisa dilihat dari luar negeri, karena acara ini Live sampai ke luar negeri,” Terang Ayong.

Ayong sangat berharap Kesenian Daerah Banyuwangi  dapat masuk di Kurikulum Sekolah, “Saya berharap Anggota Dewan (DPR) Banyuwangi agar mengusulkan pelajaran Kesenian Daerah Banyuwangi dapat dimasukkan di dalam kurikulum sekolah, agar supaya Seni dan Budaya Daerah, bisa dikenal masyarakat Banyuwangi mulai sejak dini, sehingga masyarakat Banyuwangi bisa memahami nilai-nilai Sejarah, Seni, dan Budaya Dareah Banyuwangi itu sendiri,” Harapnya.

Pada kesempatan tersebut, salah seorang Pengamat Seni Budaya, Prof Ismi, melalui sambungan langsung Meeting Zoom menyampaikan, “Betapa pentingnya memelihara Seni Budaya Daerah, karena Seni dan Budaya Daerah akan menunjukkan karakter dari daerah itu sendiri, terutama Bahasa Daerah itu sendiri, khususnya Banyuwangi dengan bahasa osingnnya, karena bila seseorang tidak faham dengan Bahasa Daerahnya, maka kurang berasa kedaerahannya,” Ungkapnya.

“Bukan maksud merendahkan daerah yang lain, akan tetapi sangatlah penting Bahasa Daerah untuk menunjukkan karakter daerahnya,” Imbuhnya.

Ketua DKB Banyuwangi, Hasan Basri, juga mengungkapkan tidak jauh berbeda dengan apa yang dipaparkan Ayong Laros. Hasan Basri menyimpulkan, “Dengan adanya Acara Meeting Zoom ini, saya ingin mengembalikan Imej masyarakat tentang Seni Paju Gandrung yang negatif ini kembali dengan imej yang positif,” Ujarnya tegas.

“Dan saya ingin mencari penerus Pelaku Seni Gandrung yang sebenarnya, karena saat ini masih belum ada Gandrung yang sebenarnya, kalau Penari Gandrung banyak sekali, bahkan ribuan. Dan kebanyakan Penari Gandrung di dominasi oleh para Pelajar,” Terangnya.

“Mudah-mudahan setelah masa pandemi ini, akan ada Penerus Gandrung itu sendiri, agar Kesenian Daerah Banyuwangi tidak pudar digerus Perkembangan Zaman,” Harapnya.

“Dan saya berharap, jika sudah hidup kembali, Seni Paju Gandrung nanti, di setiap ada Pentasan Gandrung, pihak-pihak Penegak Hukum, terutama yang punyak tugas di sini adalah Satpol PP benar-benar menertibkan Pentasan Paju Gandrung ini. Tentunnya di dalam Acara Pentasan Gandrung sudah tidak ada lagi minuman keras, hingga Pentasan Gandrung nanti benar-benar bisa dinikmati dan benar-benar menjadi tontonan yang memiliki Nilai Seni yang beretika,” Tutupnya penuh harap. (MY)