MTI KUTIM - Sepekan terakhir ini di medsos muncul berbagai pemberitaan perihal adanya Kerajaan Kutai Mulawarman di Kalimantan Timur yang disinyalir "bikin

Ada Apa Dalam Sejarah Raja Mulawarman ?

MTI KUTIM - Sepekan terakhir ini di medsos muncul berbagai pemberitaan perihal adanya Kerajaan Kutai Mulawarman di Kalimantan Timur yang disinyalir "bikin resah" masyarakat Kalimantan Timur, khususnya suku Kutai. Namun pemberitaan tersebut disikapi dengan bijak oleh Fadlan warga Bengalon yang merupakan anggota Lembaga Adat Besar Kerajaan Kutai Mulawarman, saat disambangi MTI dirumahnya. Selasa (4/2/20).
"Hak Kedaulatan Waris Kerajaan Kutai Mulawarman"

"Kami semua anggota mangku adat Kerajaan Kutai Mulawarman, diminta tidak merespon berbagai pemberitaan, yang akhir akhir ini banyak yang menyudutkan Maharaja kami di Muara Kaman, oleh Menteri utama Sekretariatan Kerajaan Kutai Mulawarman Sri Raja Nala Arie Danu Saputra. Ph,D". Kata Fadlan sembari menunjukkan pesan WhatsApp kepada MTI.

Dalam pesan WhatsApp tersebut, yang dikirim oleh Arie Danu Saputra yang bergelar Sri Raja Nala kepada Fadlan, merupakan instruksi agar semua anggota Lembaga Adat Kerajaan Kutai Mulawarman tetap bersikap taat dan patuh pada aturan hukum yang berlaku di Indonesia, juga agar tidak terpancing dengan pemberitaaan yang ada, serta pelarangan terhadap anggota untuk bersikap anarkis.

"Kami percayakan pada proses alam dan proses hukum jika ada orang ataupun institusi yang melaporkan keberadaan Kerajaan Kutai Mulawarman kepada pihak aparat penegak hokum”. Ungkap Fadlan.

"Kami memiliki legalitas yang sah. Dan pelembagaan untuk melestarikan adat budaya Kerajaan Kutai Mulawarman telah berbadan hukum sebagaimana diatur oleh perundangan yang berlaku di NKRI". Imbuhnya.

Lebih lanjut Fadlan menujukan photo WhatsApp, perihal Surat Kuasa Waris Kerajaan Kutai Mulawarman kepada media MTI, yang mana berdasarkan atas persetujuan Kesultanan Kutai Kartanegara bahwasanya Rakni Dewi Gari yang bergelar Mahasuri Seri Nila mewariskan tahta atas kerajaan Kutai Mulawarman kepada Iansyah Reza. Dan sudah dicatatkan di Pengadilan Negeri di Samarinda.

"Yang saya pahami menurut literatur yang saya baca serta cerita dari kakek buyut saya, bahwa antara Kesultanan Kutai Kartanegara dan Kerajaan Kutai Mulawarman adalah 2 (read, dua) dinasti yang berbeda. Dahulu kerajaan Kutai Mulawarman kalah perang dengan Kerajaan Kutai Kartanegara (read, yang saat ini berubah menjadi Kesultanan semenjak masuknya Islam di Nusantara), kemudian disebutlah Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martapura yang di pimpin secara turun temurun oleh dinasti Aji Pangeran Anum Panji Mendapa, sewaktu masih memeluk agama Hindu dan sewaktu menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martapura, dinasti tersebut memakai gelar Sultan Aji. Sementara dinasti Mulawarman masih ada anak cucu keturunannya di Muara Kaman". Papar Fadlan.

"Dengan keadaan saat ini, dimana sudah tidak berlaku sistem pemerintahan monarki di Indonesia, karena negara Indonesia memakai sistem pemerintahan Republik, maka semua eks Kerajaan maupun Kesultanan se-Nusantara telah melebur di NKRI, dan sebatas pelestari adat dan budaya semata. Lalu apa yang salah dan keliru dengan adanya Kerajaan Kutai Mulawarman sekarang ini, karena dinastinya memang masih ada di Muara Kaman dan eksistensi mereka sebagai pelestari adat dan budaya masih berlangsung hingga saat ini". Pangkas Fadlan. (Ried)